PELATIHAN, KURSUS, DAN KONSULTASI

LEMBAGA STUDI UMAT NURUL IMAN (eL-SUNI), YOGYAKARTA
"Mantapkan Iman dengan Ilmu Pengetahuan"

Alamat: Jl. Besi-jangkang, KM 3,5, Belakang Puskesmas Ngemplak 2, Banglen, Widodomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta, di Samping Penjahit Sri Rejeki (a.n. Muhammad Rais Ramli, M.S.I., M.S.I. Telp./WA/Telegram: 0815-7885-6972; PIN BB: D02A5AB9; E-Mail: Mrais17@yahoo.com; YM: Mrais17).

PELATIHAN & KURSUS
* PELATIHAN TATA CARA SHOLAT LENGKAP
(Thaharoh [Ugensi Thoharoh, Macam-macam Najis dan Cara Membersihkannya, Zat/benda yang digunakan untuk Thoharoh, Adab Buang hajat, Sunnah-sunnah Fitroh, Wudhu, Mengusap Khuf, Mandi, Tayammum, Fiqh Haid, Nifas, dan Istihadhoh] Gerakan Sholat, Bacaan Sholat, Makna & Rahasia Kandungan Sholat).

* PELATIHAN PERAWATAN JENAZAH LENGKAP
(Merawat Orang Sakit, Sakaratul Maut, Memandikan, Mengkafani, Men-sholatkan, Menguburkan, Takziah, Siksa Kubur, dan Amaliyah yang bermanfaat bagi jenazah yang disepakati ulama).

* PELATIHAN RETORIKA DAKWAH (TEKNIK PIDATO/ CERAMAH & KHUTBAH).
(Fiqh Dakwah, Fiqh Khutbah Jumat, dan Retorika).

* KURSUS BAHASA ARAB
(Nahwu, Shorof, Tashrif, Kajian Bahasa Arab al-Quran [KaBAr-Qu] Muhadatsah Fushah [Percakapan Bahasa Arab Standar], dan Terjemah Arab-Indonesia)

* KURSUS TARJAMAH AL-QUR'AN PER KATA

* PELATIHAN SEHARI (ONE DAY TRAINING) METODE MUDAH MENGUASAI KOSA KATA AL-QURAN (DENGAN TARGET MENGUASAI 50% AL-QURAN).

* KURSUS ULUMUL QUR'AN
* KURSUS ULUMUL HADIS
* KURSUS USHUL FIQH
* KURSUS FIQH ZAKAT
* KURSUS FIQH PUASA
* KURSUS FIQH MU'AMALAH
* KURSUS FIQH EKONOMI ISLAM

* MENYALURKAN WAKAF KAMUS SAKU AL-QURAN UNTUK PERPUSTAKAAN PONDOK PESANTREN, MADRASAH, DAN LEMBAGA PENDIDIKAN LAINNYA YANG MEMBUTUHKAN. BAGI PARA DERMAWAN YANG INGIN MENJADI SPONSOR WAKAF KAMUS AL-QURAN, DAPAT MENGHUBUNGI PENULIS PADA CONTACT DI ATAS.

*eL-SUNI menerima infak atau sponsorship untuk Dakwah dan Bakti Sosial di Desa-desa terpencil untuk wilayah Propinsi D.I. Yogyakarta dan Propinsi Jawa Tengah. Untuk setiap Dakwah dan Bakti sosial dilakukan selama 3 hari, 2 malam. Adapun kegiatan-kegiatan dakwah dan bakti sosial di desa-desa terpencil selama 3 hari dan 2 malam tersebut adalah
= Bazar Sembako Murah
= Pembagian Pakaian Layak Pakai
= Penyuluhan Pertanian/Perkebunan (menyesuaikan kondisi desa sasaran dakwah dan bakti sosial)
= Pengajian Akbar (target minimal 300 peserta)
= Pelatihan perawatan jezanah (target 100 peserta)
= Pelatihan tatacara cara thaharah dan tatacara shalat (target 100 peserta)
= Pelatihan Metode Mudah Menguasai Kosa Kata al-Quran
= Pelatihan guru Taman Kanak-kanak al-Quran dan Taman Pendidika al-Quran (target 50 peserta)
= Lomba-lomba untuk taman kanak-kanak al-Qur'an dan Taman Pendidikan al-Quran (target 100 peserta)
= dan berbagai kegiatan-kegiatan lain sesuai usulan warga sasaran kegiatan dan usulan donatur dan sporsorship.

NB= Banyaknya kegiatan dalam sekali kegiatan dakwah dan bakti sosial disesuaikan dengan dana yang tersedia.

* Dalam melaksanakan kegiatan dakwah dan bakti sosial, eL-SUNI bekerjasama dengan lembaga-lembaga lain sesuai dengan kebutuhan.

* Dana kegiatan dapat disalurkan ke nomor rekening,
0220830510, Bank BNI Syariah Cabang Yogyakarta, a.n. Muhammad Rais

KONSULTASI SKRIPSI & TESIS UNTUK SEMUA ILMU SOSIAL DAN ILMU AGAMA ISLAM

Rabu, 20 Oktober 2010

Bekali diri dengan Iman, Ilmu, dan Taqwa untuk Hadapi Masa Depan yang Ceria


Khutbah Idul Fitri 1427 H
Bekali diri dengan Iman, Ilmu, dan Taqwa
untuk Hadapi Masa Depan yang Ceria[1]
Oleh Muhammad Rais, S.S., S.Th.I., M.S.I.[2]

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إن الحمد لله نحمده ونستعينه و نستغفره، ونعوذ باالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فهو المهتدى ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له و أشهد أن محمدا عبده ورسوله لانَبِيَ بَعْدَهُ. الله اكبرالله اكبر، الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا، لا إله إلا الله وحده، صدق وعده، ونصر عبده، وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده، لا إله إلا الله، الله أكبر، الله اكبر و لله الحمد
          Kaum Muslimin dan Muslimat Yang Berbahagia!
            Tiada kata yang paling utama yang patut kita ucapkan selain puji syukur ke hadirat ilahi Rabbi yang maha Agung, yang telah melimpahkan rahmat dan kasih sayangnya kepada kita, sehingga pada pagi hari ini kita masih sempat menatap terbitnya matahari di pagi hari yang ceria ini. Sebagai orang yang beriman, kita harus mengakui bahwa berbagai fasilitas yang kita nikmati di dunia ini adalah milik Allah semata. Oleh karena itu, apabila suatu saat nanti, Ia berkenan untuk mengambilnya, maka kita pun harus rela untuk mengembalikannya.
            Tak lupa kita haturkan shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad saw., keluarga, para sahabat, dan para pengikutnya yang senantiasa setia hingga akhir zaman. Muhammad Rasulullah adalah penutup para Nabi dan Rasul. Muhammad Rasullullah adalah teladan utama kita orang-orang yang beriman. Teladan dalam beribadah. Teladan dalam kehidupan bernegara. Teladan dalam kehidupan bermasyarakat. Teladan dalam kehidupan rumah tangga. Teladan dalam berbagai aspek kehidupan kita.
الله اكبرالله اكبر و لله الحمد
Kaum Muslimin dan Muslimat Yang Berbahagia!
            Tak terasa, telah satu bulan lamanya kita telah "bercengkrama" dengan bulan romadhon. Bulan yang penuh rahmat, bulan yang penuh ampunan, bulan yang senantiasa dirindukan oleh orang yang beriman. Di dalam bulan ini, kita telah melakukan berbagai ibadah di dalamnya. Di antaranya, berpuasa di siang hari, melakukan qiyamul lail atau shalat taraweh pada malam harinya, mengeluarkan infaq dan shadaqoh, mengeluarkan zakat, melakukan tadarrus al-Qur'an, melakukan sahur dan buka puasa bersama, mendengarkan ceramah tarawih dan subuh dari para da'i, muballigh, para ustadz atau mendengarkan nasehat-nasehat agama dari berbagai televisi dan radio.
Saat ini, kita telah berpisah dengan bulan Romadhon. Akankah kita bertemu kembali dengannya di tahun yang akan datang? Kita berharap, kita dapat bertemu kembali dengan romadhon yang senantiasa kita rindukan itu. Akan tetapi, andaikan kita pun bertemu dengan bulan Romadhon di tahun depan, maka ketahuilah bahwa ia bukanlah romadhon yang kemaren, tetapi ia adalah romadhon yang lain. Bulan romadhon yang kemarin telah pergi untuk selamanya. Ia takkan kembali lagi. Romadhon yang kemaren tinggal kenangan manis bagi kita. Kita hanya berharap, mudah-mudahan romadhon yang kemaren itu akan menjadi saksi kelak bagi semua amal ibadah kita. Amin! 
Beruntunglah orang-orang yang beriman, yang betul-betul menggunakan momen bulan Romadhon kemaren untuk melaksanakan berbagai ibadah kepada Allah swt. dengan ikhlas, karena ia akan diampuni segala dosa-dosanya, sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda, [3] مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه. Dalam hadis lain Rasulullah saw. bersabda, مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ[4]. مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرَِ إيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ[5]
Dengan demikian, orang-orang yang dengan sungguh-sungguh telah melakukan puasa romadhon, dengan sungguh-sungguh telah melakukan qiyamullail, dan ia bangun pada lailatulqadr, maka, insya Allah, Allah akan mengampuni segala dosa-dosanya yang telah lalu. Oleh karena itu, orang ini sangatlah pantas merayakan hari rayanya pada hari ini karena ia telah suci dari noda dan dosa-dosanya kepada Allah swt.
Akan tetapi, kita jangan lupa bahwa kita masih mempunyai berbagai dosa atau kesalahan dengan orang lain, yang dosa dan kesalahan itu baru akan terampuni dan termaafkan apabila kita memohon maaf kepada orang yang bersangkutan.
Di dalam Q.S. 42 (asy-Syuura'): 40 Allah swt. berfirman, وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لا يُحِبُّ الظَّالِمِين  "Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik[6] maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berbuat zalim." Dalam ayat lain Q.S. 7 (al-A'raf): 199, Allah swt. berfirman,  خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِين "Jadilah engkau pemaaf  dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh."
Rasulullah saw. adalah orang yang paling mudah dalam memaafkan orang lain. Dan hal ini patut kita contoh atau teladani bersama. Berikut ini akan saya kemukakan beberapa contoh tentang bagaimana Rasulullah saw. dengan hati yang lapang dan ikhlas dalam memaafkan orang-orang yang nyata-nyata telah menyakiti dan mengancam jiwa Beliau saw.
1. Pada perang Uhud, Nabi saw. mendapat luka-luka pada wajah dan beberapa buah giginya patah. Salah seorang sahabatnya mengusulkan agar ia berdoa untuk musuh-musuhnya agar mereka mendapatkan celaka. Akan tetapi, Nabi saw. bukannya berdo'a agar musuh-musuhnya tersebut mendapatkan celaka, tetapi malah mendoakan musuhnya agar mereka diampuni karena mereka dianggap tidak tahu.[7] Hanyalah orang yang berjiwa besar yang bisa melakukan hal seperti ini. Ya Rasulallah! Sungguh mulia budi pekertimu!
2. Pada perang Uhud itu pula seorang budak hitam bernama Wakhsyi dijanjikan akan dimerdekakan oleh tuannya, apabila ia berhasil membunuh Hamzah bin Abdul Muththalib paman Nabi saw. Wakhsyi ternyata bisa membunuh paman Nabi saw. dan Rasulullah saw. sangat sedih atas gugurnya paman beliau tersebut. Akan tetapi, ketika Wakhsyi masuk Islam dan menceritakan tentang pembunuhan pamannya tersebut, Nabi saw. bukannya membalas dendam, tetapi malah memaafkan Wakhsyi atas kesalahannya membunuh paman beliau.[8] Sungguh mulia akhlak Beliau saw.
3. Dalam perang Khaibar, seorang wanita bernama Zainab binti Harits mendapatkan hadiah karena berhasil membubuhkan racun pada makanan Nabi saw. Rasulullah saw. makan bersama Bisyr bin Bara'. Beberapa hari kemudian Bisyr bin Bara' meninggal dunia karena sempat menelan makanan beracun tersebut, sedangkan Nabi saw. tidak sempat menelan makanan beracun itu karena makanan tersebut memberitahukan kepada Rasulullah saw. bahwa ia beracun, akhirnya makanan itu dimuntahkannya. Akan tetapi, ketika Nabi saw. bertemu dengan wanita tersebut bukannya ia balas dendam atau marah tetapi Beliau saw. malah memaafkannya.[9] Sungguh luar biasa akhlak beliau.
4. Pernah juga beliau diancam dengan pedang oleh kafir Qurasiy bernama Da'tsur. Ketika beliau saw. sedang istirahat di bawah pohon yang rindang. Da'tsur mengambil pedang Nabi saw. dan menghunuskannya seraya berkata dengan nada mengancam: "Siapakah yang akan menolongmu dariku sekarang?!" Nabi saw. dengan tenang dan penuh kayakinan menjawab, "Allah!!!" Da'tsur pun gemetar mendengar jawaban Nabi saw. Akhirnya, pedang itu jatuh dari tangan Da'tsur. Nabi saw. pun mengambil pedang itu dan gantian mengancam Da'tsur. "Siapakah yang menolongmu sekarang dari ancamanku?" Da'tsur menjawab, "Tidak ada", Nabi saw. malah memaafkan Da'tsur yang nyata-nyata tadi mengancamnya dengan pedang.[10] Sungguh mulia pribadimu Ya Rasulallah!!!
Oleh karena itu, mumpung masih ada waktu yang tersisa dari umur kita, Mari ikhlaskan hati kita, kita lapangkan dada kita untuk saling memaafkan. Rasulullah saw. telah memberi teladan kepada kita tentang bagaimana beliau dengan mudah memaafkan orang lain. Mudah-mudahan dengan saling memaafkan ini, kita memasuki bulan Syawal seperti kertas putih yang bersih tanpa noda, seperti bayi yang baru dilahirkan.
الله اكبرالله اكبر و لله الحمد
Kaum Muslimin dan Muslimat Yang Dimuliakan Allah swt.!
Setelah bulan Romadhon berlalu, kita berharap ada bekas atau kesan yang tetap  tersisa pada diri kita. Kebiasaan kita pada bulan Romadhon untuk berpuasa pada siang hari, mudah-mudahan bisa dipertahankan di bulan-bulan berikutnya. Oleh karena di bulan lain di luar Romadhon tetap ada perintah puasa, hanya saja, perintah itu tidak wajib tetapi hukumnya sunnah. Di antara puasa sunnah yang diperintahkan itu adalah puasa 6 hari di bulan Syawal. Baik ia berturut-turut atau diselang-selingi dengan hari-hari lain. Rasulullah saw. bersabda, من صام رمضان وأتبعه ستًّا من شوال كان كصيام الدّهر[11]
Puasa sunnah yang lainnya adalah puasa setiap hari Senin dan Kamis, Puasa pada hari-hari putih yaitu setiap tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulannya dengan hitungan tahun Hijriyah. Puasa Daud yaitu sehari puasa sehari berbuka. Puasa Asyura yaitu puasa pada tanggal 10  Muharram. Ada juga puasa tasu'a yaitu puasa setiap tanggal 9 Muharram, dan beberapa puasa-puasa sunnah lainnya.
Akan tetapi, jangan sampai kita mengejar puasa sunnah sebanyak-banyaknya, tetapi utang puasanya di bulan Romadhon belum terbayarkan. Oleh karena itu, sebaiknya bayarlah utang puasa terlebih dahulu karena itu wajib hukumnya untuk dibayar. Setelah itu, barulah mengejar puasa sunnah dengan sebanyak-banyaknya.
Selain puasa, terdapat kebiasaan lain di bulan Romadhon yang patut kita pertahankan yaitu kebiasaan membaca al-Qur'an setiap harinya, melaksanakan shalat berjama'ah di masjid-masjid atau mushollah, mendengarkan berbagai pengajian, mendirikan shalat malam atau qiyamullail, mengeluarkan infaq dan sedekah, dll.
Akan sangat menyedihkan kalau semua kebiasaan-kebiasaan yang baik itu kemudian hilang begitu saja. Padahal satu bulan penuh kita telah menempa diri dengan berbagai kegiatan-kegiatan yang bernilai ibadah tersebut. Akan sangat menyedihkan, apabila setelah romadhon pergi, maka masjid-masjid pun sunyi dan sepi. Sarung dan kerudung dimasukkan ke dalam lemari. Ntar tahun depan baru dikeluarin lagi. Padahal Romadhon belum tentu ia dapati lagi, akibat ia keburu mati. Ya Ilahi Rabbi, moga tidak terjadi dengan para jama'ah kita di sini.
Akan sangat menyedihkan lagi, kalau tiada lagi yang melantunkan kalam ilahi. Tiada lagi yang mau belajar ngaji. Tiada lagi yang mau dengar nasehat dari para da'i. Tiada lagi yang mau ngurusi masjid ini. Oh sungguh sedih, tapi insya Allah, di sini tak akan terjadi, karena imannya sudah tingkat tinggi, dengan hanya mengharap Ridho Ilahi.
الله اكبرالله اكبر و لله الحمد
Kaum Muslimin dan Muslimat Yang Dimuliakan Allah swt.!
            Untuk menghadapi masa depan yang ceria, bekal yang paling baik adalah iman, ilmu, dan taqwa. Kita termasuk orang yang beriman karena telah memenuhi perintah Allah berupa berpuasa di bulan Romadhon. Mudah-mudahan keimanan kita terus ditingkatkan di masa-masa yang datang. Demikian pula dengan ilmu, ia sangat penting bagi kita karena dengan ilmulah kita bisa mengetahui tatacara beribadah kepada Allah swt. dan pada akhirnya kita akan keluar menjadi orang yang bertaqwa apabila telah selesai melaksanakan berbagai macam ibadah yang diperintahkan Allah swt.
            Akhirnya, saya ucapkan تقبل الله منا ومنكم صيامنا وقيامنا وكل أعمالنا الصالحة
"Mudah-mudahan Allah swt. menerima segala puasa kita, amalan shalat kita, dan semua amal-amal shalih kita yang lain"
ربنا اغفرلنا ذنوبنا واسرافنا في أمرنا وثبت أقدامنا واصرنا على القوم الكافرين.
"Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan perbuatan kami yang melampaui batas, dan teguhkanlah pendirian kami, serta tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir."
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الْآخرة حسنة وقنا عذاب النار. والحمد لله رب العالمين.



     



[1]Disampaikan Pada Hari Raya Idul Fitri 1427 H, Senin, 23 Oktober 2006 M. di Sengon Prambanan Klaten Jawa Tengah.
[2]Saat ini Tinggal di Rejowinangun Yogyakarta  HP. 081578856972.
[3]Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin, Kajian Romadhon, terj. Salafuddin Abu Sayyid (Solo: al-Qowam, 2006), hlm. 12.
[4]Wahbah al-Zuhaily, al-Fiqh al-Islami Wa Adillatuh (Beirut: Dar al-Fikr, 1997), hlm. 1722.
[5]Ibid., hlm. 1623.
[6]Berbuat baik di sini adalah berbuat baik kepada orang yang berbuat kejahatan kepadanya.
[7]Hasphan Djarman dan Syahminan Zaini, Renungan Muslim (Jakarta: Kalam Mulia, 1989), hlm. 278.
[8]Ibid.
[9]Ibid., hlm. 278-279.
[10]Ibid., hlm. 279.
[11]Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhajul Muslim (Beirut: Dar al-Fikr, 1995), hlm. 253.

Idul Adha: Lambang Semangat Pengorbanan



محمد رئيس رملى البوغيسى
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إن الحمد لله نحمده ونستعينه و نستغفره، ونعوذ باالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فهو المهتدى ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له و أشهد أن محمدا عبده ورسوله
الله اكبرالله اكبر، الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا، لا إله إلا الله وحده، صدق وعده، ونصر عبده، وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده، لا إله إلا الله، الله أكبر، الله اكبر و لله الحمد

            Hari ini, kita umat Islam merayakan hari besar kita yang bernama hari raya Idul Adha. Sebagaimana kita ketahui bahwa umat Islam mempunyai dua hari raya dalam setahun yaitu hari raya Idul Fitri yang datang pada setiap tanggal 1 Syawwal dan yang kedua adalah hari raya Idul Adha yang datang setiap tanggal 10 Zulhijjah. Kemudian, kita juga mempunyai hari raya pekanan/ mingguan yaitu yang datang setiap hari Jum’at. Dengan demikian, kita umat Islam mempunyai tiga hari raya yaitu hari raya Idul Fitri, hari raya Idul Adha, dan hari Jum’at. Hanya saja, untuk hari Jum’at, kaum muslimin belum banyak mengetahui kalau hari Jumat termasuk hari raya kaum Muslimin. Sebenarnya, bagi orang yang beriman, hari raya baginya bukan hanya ada pada ketiga hari di atas, tetapi hari raya baginya adalah hari yang ketika itu ia dapat melaksanakan segala perintah-perintah Allah dan dapat meninggalkan segala larangan-larangan-Nya.
Hari raya Idul Adha yang kita rayakan pada hari ini, tidak terlepas dari sebuah peristiwa penting yang terjadi pada zaman Nabi Ibrahim a.s. Hari itu, keimanan atau cinta Ibrahim a.s. kepada Allah swt sedang diuji--Saya  sering mengidentikkan keimanan dengan cinta agar mudah dipahami, tetapi tentu saja, kedua kata itu mempunyai makna yang berbeda. Orang yang beriman kepada Allah berarti ia cinta kepada Allah. Kalau kita mencintai sesuatu, maka apa saja permintaan sesuatu atau orang yang kita cintai akan kita kabulkan, walau berat terasa permintaan itu. Tetapi karena dorongan cinta, maka semua yang berat akan terasa ringan. Sebagai contoh, seorang suami yang karena cintanya kepada sang istri, maka ia rela pergi-pagi, pulang-sore, peras-keringat, banting-tulang demi menafkahi sang istri tercinta. Demikian pula seorang ayah, karena cintanya kepada anaknya, maka ia rela mencari nafkah dengan cara apapun juga, yang penting halal baginya, demi masa depan anaknya yang lebih baik di kemudian hari.  Saya perlu tekankan di sini tentang kenapa harus mencari makan/ rezki yang halal, karena makanan yang haram yang didapatkan dari jalan yang bertentangan dengan agama kita seperti merampok, merampas, menipu, mencuri, korupsi, judi, dll akan mempengarungi jiwa anak kita. Anak-anak menjadi sulit untuk dididik menjadi anak yang sholeh, tetapi mudah sekali kalau diajak untuk berbuat kejahatan karena pengaruh makanan haram tadi yang sudah menjadi darah dan dagingnya. Demikian pula, doa tidak akan terkabul, selama kita mengkonsumsi/ memakan makanan yang haram.
الله اكبرالله اكبر و لله الحمد
Di tanah jawa ini, ada sebuah cerita kuno (yang menurut saya masih perlu dipertanyakan kebenarannya, tetapi ada hikmah yang ingin saya kemukakan yang sesuai dengan budaya anda sendiri sehingga saya selipkan di sini), tentang seorang pangeran yang ingin mempersunting seorang gadis jelita yang menawan hatinya. Sang Pangeran diperintahkan oleh sang gadis untuk membuat 1000 candi dalam semalam sebagai syarat menyunting gadis tersebut. Walau terasa berat syarat itu, tetapi demi cintanya terhadap sang gadis, ia pun rela berkorban, mengeluarkan seluruh daya dan upaya untuk membangun 1000 candi dalam semalam, namun upaya ini tidak berhasil karena adanya tipu muslihat dari sang gadis. Tetapi yang patut dibanggakan karena ia berhasil membangun 999 candi. Dari sini bisa diketahui, betapa besar pengorbanan yang ia keluarkan demi mendapatkan gadis jelita pujaan hatinya tersebut.
Alangkah indahnya, andaikan pengorbanan yang seperti ini hanya ditujukan kepada Allah semata. Kita keluarkan seluruh kemampuan, kita keluarkan segala daya dan upaya untuk melaksanakan segala perintah Allah. Demikian pula, kita mengeluarkan segala kemampuan, mengeluarkan segala daya dan upaya untuk menjauhi segala larangan-larangannya. Dan setelah itu, Allah akan memperkenankan untuk menyunting bidadari-bidadarinya di sorga yang, tentu saja, jaaauuuh lebih jelita dari sang bidadari yang diidam-idamkan sang pangeran tadi dan kita boleh memiliki bidadari-bidadari itu untuk selamanya.
الله اكبرالله اكبر و لله الحمد
Jadi, memang, cinta  harus dibuktikan dengan pengorbanan. Sekarang Allah ingin menguji cinta Ibrahim. Ujian cinta Ibrahim a.s itu tidak tanggung-tanggung. Allah swt mengujinya dengan memerintahkan kepadanya untuk menyembelih  anak yang sangat dicintainya yaitu Ismail a.s. Coba kita renungkan, betapa berat ujian keimanan/ujian cinta ibrahim ini. Bagaimana tidak, anak satu-satunya yang sedang lucu-lucunya, yang sudah lama didambakannya itu, malah diperintah oleh Allah untuk menyembelihnya. Tetapi ternyata, Ibrahim a.s. membuktikan bahwa cintanya kepada Allah jaaauuuh lebih besar kepada Allah daripada cintanya kepada anaknya.
Peristiwa besar itu diabadikan oleh Allah dalam al-Quran surat ash-shoffat: 102. ketika itu Nabi Ibrahim a.s. berkata kepada anaknya: “يا بني Wahai ananda  (panggilan yang penuh rasa cinta dan kasih sayang), إنى أرى فى المنام sesungguhnya aku melihat dalam mimpi, إنى أذبحك aku sedang menyembelihmu.  فانظر ماذا ترىBagaimanakah pendapatmu?” Nabi Ismail a.s. memperlihatkan contoh tauladan sebagai seorang anak yang sholeh. Ia mengatakan kepada sang ayah tercinta “ يا ابت افعل ما تؤمر ستجدنى إنشاءالله من الصابرينWahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah, ayahanda akan mendapatkan ananda  termasuk orang-orang yang bersabar”
            Lihatlah! bagaimana jawaban seorang anak yangٍ sholeh. Hasil didikan seorang ayah yang juga sholeh. Apapun perintah Allah swt yang dibebankan kepada ayahnya, ia menerimanya tanpa pikir-pikir dulu. Walaupun perintah itu harus mengorbankan nyawa satu-satunya sekalipun. Hanyalah orang-orang yang mempunyai keimanan atau rasa cinta yang tinggi, yang dapat melaksanakan perintah semacam itu. Memang, makin tebal keimanan atau cinta seseorang, maka makin besar ujian Allah swt kepadanya.
الله اكبرالله اكبر و لله الحمد
            Hari raya Idul Adha biasa juga disebut dengan hari Raya Qurban. Kata “qurban” berasal dari kata “ qaruba- yaqrubu” yang berarti ‘dekat’. Kalau Anda mengatakan “teman karib” berarti yang dimaksudkan adalah ‘teman dekat.’ Jadi, maksud seseorang berqurban adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.
Pada hari raya Idul Qurban, umat Islam yang mempunyai kemampuan, disunnahkan atau sangat dianjurkan (sunnah muakkadah menurut mayoritas ulama. Sebagian ulama yang lain  mengatakan wajib hukumnya, termasuk Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah) oleh Nabi saw untuk menyembelih hewan qurban. Penyembelihan hewan qurban ini sebagai salah satu implementasi keimanan atau pernyataan cinta seseorang kepada Allah swt. Sebagaimana Nabi Ibrahim a.s., ia rela mengorbankan anaknya sebagai implementasi keimanannya atau bukti cintanya kepada Allah swt. Itulah sebabnya, Nabi Ibrahim biasa juga disebut خليل الله/ kekasih Allah.
Adapun syarat-syarat hewan yang dikurbankan yaitu hewan qurban itu haruslah berupa unta, sapi, kambing atau kibas. Hewan tersebut tidak cacat seperti matanya buta, sakit, pincang lumpuh, sangat kurus dll. Adapun kriteria hewan qurban yang dianjurkan adalah hewan yang paling gemuk, paling banyak dagingnya, dan paling sempurna bentuk tubuhnya.
Allah sendiri tidaklah menerima darah maupun daging dari hewan sembelihan seseorang, tetapi Allah hanyalah menerima ketaqwaan dari orang yang berqurban tersebut. Kata Allah dalam al-Qur’an surah 22: 37 “  لن ينال الله لحومها ولا دماؤها ولكن يناله التقوى منكم كذالك سخرها لكم لتكبروا الله على ما هداكم وبشر المحسنين (الحج: 37)Sekali-kali Allah swt tidak akan menerima daging dan darah dari hewan qurbanmu, tetapi Allah hanyalah menerima ketaqwaanmu sekalian. Demikianlah Allah  menundukkannya agar engkau sekalian mengagungkan Allah atas bimbingan-Nya kepadamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat kebajikan”
Ayat di atas menjelaskan bahwa ِِAllah sendiri tidak butuh terhadap daging-daging hewan qurban tersebut, demikian pula dengan darah-darahnya, tetapi Allah hanya ingin melihat bukti kecintaan kita kepada-Nya. Allah hanya ingin membuktikan bahwa kita betul-betul termasuk golongan orang-orang yang bertaqwa. Ayat itu juga menjelaskan bahwa Allahlah yang telah menundukkan hewan-hewan qurban itu agar kita bersyukur kepada-Nya atas petunjuk atau bimbingan yang diberikan-Nya kepada kita. Adapun orang-orang yang bertaqwa tersebut patutlah diberi kabar gembira karena mereka akan dimasukkan kedalam surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang di dalamnya ada bidadari-bidadari yang cantik nan jelita. Bidadari-bidadari yang suci yang belum pernah disentuh oleh siapa pun juga, baik malaikat, jin, mau pun manusia. Bidadari-bidadari yang hanya melayani suami-suaminya di surga. Bidadari-bidadari yang senantiasa awet muda, sepanjang masa. Sungguh, balasan yang sangat luar biasa. Berlomba-lombalah untuk meraihnya. Wahai saudara!
الله اكبرالله اكبر و لله الحمد
Perlu dicatat di sini bahwa orang yang berqurban adalah orang yang mempunyai kemampuan dari segi material atau harta benda, karena ia harus mengeluarkan biaya untuk membeli hewan qurban seperti onta, lembu, kambing atau kibas. Selain itu, ia juga harus mengeluarkan biaya operasional penyembelihan dan pendistribusian daging qurban tersebut. Oleh karena biaya operasional tidak boleh diambil dari uang pembelian hewan qurban tetapi harus diambilkan dari shohibul qurban. Dengan kata lain, ada biaya khusus, selain biaya pembelian hewan qurban, yang dikeluarkan oleh shohibul qurban untuk biaya operasional.
Dengan berqurban, berarti kita juga ikut berpartisipasi meringankan beban saudara kita yang faqir dan miskin. Dapat menafkahi keluarga kita dan juga memberi hadiah kepada orang-orang yang berkemampuan. Oleh karena 1/3 dari daging hewan kurban, bisa dibagikan atau disedekahkan kepada para fakir dan miskin. 1/3 nya lagi untuk shohibul qurban, yang berarti sang shohibul qurban juga mendapat pahala karena sesekali memberikan nafkah kepada dirinya sendiri dan juga keluarganya dalam bentuk hidangan istimewa dari daging hewan qurban tersebut. Untuk 1/3 yang lainnya, bisa dibagikan kepada para kerabat dekat, handaitolan atau hadiah kepada orang-orang yang mampu artinya orang yang kaya tidak mengapa mereka mendapat bagian hewan qurban sebagai hadiah buat mereka.
Dengan demikian, orang yang berkurban terpenuhi baginya dua hal yaitu ia telah menyambung tali hubungan kepada Allah حبل من الله sekaligus ia juga menyambung hubungan silaturahim dengan sesama manusia atau حبل من الناس .  Oleh karena tujuan kurban adalah memupuk rasa taqwa sekaligus memupuk solidaritas sosial di antara kita. Orang yang melakukan penyembelihan hewan qurban berarti mendidik jiwanya agar senantiasa rela berkorban untuk membantu sesama. Ia menghilangkan sifat kikir, pelit, bakhil atau sifat rakus terhadap harta. Sebaliknya, dengan berkurban itu berarti, ia mendidik jiwanya agar menjadi orang yang dermawan, pemurah,  pengasih, suka membantu atau menolong orang lain, dan lain sejenisnya.
Akan tetapi, orang yang berqurban tersebut juga harus berhati-hati. Jangan sampai ada penyakit-penyakit hati yang menyelinap ke dalam hati. Oleh karena syaitan tidak akan berhenti, menggoda kita setiap hari, agar kita tergelincir dari niat yang suci. Dibisikkannya ke dalam hati, rasa sombong (takabbur) yang membuat orang lain jadi keki. Dibisikkannya ke dalam hati, agar kita (riya)/ pamer diri. Dibisikannya ke dalam hati, agar niat yang suci ini berubah menjadi ingin mendapatkan ketenaran di masyarakat Terban-Blimbingsari atau malah ingin dikenal oleh Pak Haji. Ini semua adalah penyakit-penyakit hati yang bisa menimbulkan rasa iri dan dengki. Bahkan lebih para lagi, bisa membatalkan segala amal kebajikan kita di akhirat nanti. Oleh karena itu, kita sebaiknya senantiasa mengoreksi diri (muhasabah) apakah niat berqurban sudah betul-betul karena ilahi  atau hanya karena mau dilihat pak direksi atau mau dikenang oleh Pak Dukuh Blimbingsari, atau mau membanggakan diri di depan istri. Na’udzubillahi min dzalik. Saya yakin, jama’ah yang ada di sini, tidak termasuk golongan ini. Karena masyarakat Terban-Blimbingsari, terkenal dengan keikhlasannya yang tinggi.

الله اكبرالله اكبر و لله الحمد
Setelah penyembelihan qurban selesai, yang dimulai pada hari ini dan berakhir pada hari ketiga hari-hari tasyriq, maka mudah-mudahan semua amal kurban kita diterima oleh Allah swt. Akan tetapi, masih ada pekerjaan lain yang juga membutuhkan pengorbanan dari seluruh kaum muslimin. Khususnya kaum muslimin Blimbingsari, Terban, Sekip dan sekitarnya. Adapun pekerjaan yang saya maksudkan itu adalah bahwasanya di Blimbingsari saat ini sedang dilanjutkan pembangunan Masjid Nurul Iman. Masjid ini, walaupun ia berlokasi di Blimbingsari tapi ia adalah milik kaum muslimin seluruhnya. Alhamdulillah, masjid ini sekarang terus dikembangkan dan diperluas. Hanya saja, pembangunannya sangat lambat dan kadang tersendat-sendat, padahal kegiatannya begitu padat, bahkan sholat jumat, tidak lagi bisa muat.
Dengan semangat pengorbanan yang kita miliki, marilah kita saling bahu-membahu untuk membantu pembangunan Masjid Nurul Iman ini. Masjid Nurul Iman merupakan salah satu rumah Allah yang memang harus mendapatkan perhatian lebih. Alangkah ironisnya, kalau kita membangun rumah kita dengan sebaik-baiknya, tetapi rumah Allah kita biarkan begitu saja. Rasulullah saw, ketika hijrah ke Madinah, maka rumah yang paling pertama beliau bangun adalah rumah Allah/ masjid, bukan rumahnya sendiri. Oleh karena itu, mari kita sisakan harta yang kita miliki untuk membangun masjid ini. Harta yang telah kita infaqkan, itulah harta kita yang sebenarnya. Adapun harta yang ada di kantong kita saat ini, atau uang yang ada yang di bank, mungkin besok akan menjadi milik tukang bakso, atau menjadi milik pak kondektur, atau menjadi milik pak dokter.
الله اكبرالله اكبر و لله الحمد
            Marilah kaum muslimin, kita sambut hari raya qurban dengan semangat pengorbanan yang tinggi dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt. dan membangun solidaritas antara sesama manusia khususnya sesama kaum Muslimin. Penyembelihan hewan qurban hanyalah salah satu contoh pengorbanan kepada Allah swt. Masih banyak bentuk-bentuk pengorbanan lain yang harus dan dapat kita lakukan demi untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
            Akhirnya, marilah kita berdoa kepada Allah sebelum mengakhiri khutbah ini. اللهم صل على محمد وعلى اله واصحابه اجمعين
Ya Allah, Tuhan kami,  bukakanlah pintu rezki bagi kami, keluarga dan saudara-saudara kami yang beriman kepada-Mu agar kami dapat melaksanakan perintah-Mu. Agar kami dapat melaksanakan ibadah kurban, berinfaq, bersedekah, dan ibadah-ibadah lainnya. Engkau Maha Kaya, Engkau Maha Pemurah, dan Engkau sebaik-baik Pemberi Rezki.
ربنا اجعلنا مقيمين الصلاة وذرياتنا ربنا تقبل دعاء
Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang-orang yang selalu mendirikan sholat, demikian pula keturunan kami. Ya Tuhan kami, kabulkanlah do’a kami.
ربنا اغفرلنا ذنوبنا ولوالدينا والمؤمنين يوم يقوم الحساب
Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, dan dosa-dosa kedua orang tua kami, serta dosa-dosa orang-orang yang beriman, pada hari diadakannya perhitungan terhadap amal-amal kami.
ربنا اتنا فى الدنيا حسنة وفى الأخرة حسنة وقنا عذاب النار
Ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, serta jauhkanlah kami dari siksa api neraka.
سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين

Disampaikan di lapangan Terban-Blimbingsari pada Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1425 H
Blimbingsari-Yogyakarta
20 Januari 2005 Pukul 15 : 56 WIB
(ِAbu Jamilah MuhaRRam al-Bugisi)



Training Imam dan Khatib


Training Imam dan Khatib
Oleh Muhammad Rais, S.S.,S.Th.I.,M.S.I.

A. Tentang Imam
Syarat-syarat jadi Imam[1]
1. Islam
2. Berakal atau tidak gila
3. Baligh atau sudah dewasa.
4. Laki-laki
5. Bersuci dari hadas dan najis.
6. Bagus bacaan al-Qur'an-nya.
7. Tidak menjadi makmum.
8. Tidak udzur atau halangan.
9. Mempunyai lidah yang fasih (tidak cadel dan sebagainya).
10. Adil.
11. Orang yang belum melaksanakan shalat jama'ah sebelumnya pada satu waktu.

B. Orang yang paling berhak menjadi imam menurut empat mazhab.[2]
A. Mazhab Hanafi. Sesuai urutannya, orang paling berhak menjadi imam ialah,
1. Orang yang paling tahu aturan-aturan shalat (tentang sah tidaknya shalat) dengan syarat bebas dari perbuatan keji yang nyata dan hafal al-Qur'an (atau banyak hafal al-Qur'an).
2. Kemuidian orang yang paling bagus bacaan al-Qur'annya atau tajwidnya.
3. Kemudian orang yang paling wara' (menjaga diri dari hal-hal yang subhat atau hal-hal yang belum jelas halal dan haramnya)
4. Kemudian orang yang paling tua usianya karena ia lebih khusyuk dan akan memperbanyak jama'ah.
5. Kemudian orang yang paling baik akhlaknya dengan orang lain.
6. Kemudian orang yang paling banyak melaksanakan shalat malam.
7. Kemudian orang yang paling mulia nasab atau keturunannya.
8. Kemudian orang yang paling bersih dalam berpakaian.
            Kalau semua indikasi atau ciri mereka sama, maka diundi atau dipilih oleh kaumnya sendiri. Apabila mereka tidak menghasilkan mufakat, maka diambil suara yang terbanyak atau mayoritas. Apabila ada penguasa di antara mereka, maka ia diprioritaskan, kemudian gubernur (penguasa yang lebih rendah darinya), kemudian hakim, dan kemudian tuan rumah (shahibul bait).

B. Madzhab Maliki. Sesuai urutannya, orang yang paling berhak menjadi imam ialah,
1. Penguasa atau wakilnya walaupun di masjid sudah ada Imamnya.
2. Kemudian Imam Masjid.
3. Kemudian tuan rumah.
4. Kemudian orang yang paling faham tentang aturan shalat berjama'ah.
5. Kemudian orang yang paling pandai dalam hadis.
6. Kemudian orang yang paling bagus bacaan al-Qur'annya. Mengerti tajwid dan makharijul huruf (tempat keluarnya huruf).
7. Kemudian orang yang paling banyak ibadahnya, seperti shalat dan lainnya.
8. Kemudian orang yang paling awal masuk Islam.
9. Kemudian orang yang paling mulia nasab atau keturunannya. (orang yang dikenal nasabnya lebih diutamakan daripada yang tidak dikenali)
10. Kemudian orang yang paling baik akhlaknya.
11. Kemudian orang yang paling bagus dalam berpakaian kecuali pakaian yang dilarang seperti sutra. Pakaian yang bagus menurut syariat adalah yang berwarna putih, baik pakaian itu baru maupun tidak baru.
12. Kemudian orang yang paling wara'.
13. Kemudian orang yang paling zuhud (tidak bergantung kepada urusan dunia atau ia meninggalkan kelezatan kehidupan dunia).
            Orang merdeka lebih diutamakan daripada selainnya. Orang yang adil lebih diutamakan daripada orang yang tidak diketahui keadaannya. Ayah lebih diutamakan daripada anak. Paman lebih diutamakan daripada keponakan. Bagi yang mempunyai kedudukan yang sama, maka ia diundi kecuali di antara mereka sudah ada saling kerelaan.

C. Madzhab Syafi'i. Sesuai urutannya, orang yang paling berhak menjadi imam ialah,
1. Penguasa dalam wilayah kekuasaannya.
2. Kemudia imam rawatib (yang biasa mengimami shalat di masjid tersebut atau imam tetap).
3. Kemudian tuan rumah atau pemilik tempat.
4. Kemudian orang yang paling pandai.
5. Kemudian orang yang paling bagus bacaan al-Qur'annya.
6. Kemudian orang yang paling wara'
7. Kemudian orang yang awal melakukan hijrah.
8. Kemudian orang lebih awal masuk Islam.
9. Kemudian orang yang paling mulia nasab atau keturunannya.
10. Kemudian orang yang paling baik akhlak atau perilakunya.
11. Kemudian orang yang paling bersih dalam berpakaian.
12. Kemudian orang yang paling bersih badannya.
13. Kemudian orang paling baik pekerjaannya.
14. Kemudian orang paling bagus suaranya.
15. Kemudian orang yang paling bagus wajahnya.
16. Kemudian orang yang sudah menikah.
            Kalau semua indikasi atau ciri di atas sama, maka mereka diundi. Orang yang adil lebih diutamakan daripada orang yang fasiq walaupun orang yang fasiq ini lebih pandai dan lebih bagus bacaannya daripada orang adil tadi. Orang yang dewasa lebih diutamakan daripada orang yang belum dewasa walaupun orang yang belum dewasa ini lebih pandai dan lebih bagus bacaannya. Orang merdeka lebih diutamakan daripada budak. Orang yang mukim (tidak bepergian) lebih diutamakan daripada orang safar (sedang bepergian). Orang yang halal (tidak melakukan kemaksiatan seperti perzinaan) lebih utama daripada orang melakukan perzinaan. Orang buta sama kedudukannya dengan orang yang melihat (tidak buta) karena orang buta tidak melihat sesuatu yang dapat mengganggu shalat sehingga ia bisa lebih khusyuk, sedangkan orang yang melihat bisa lebih berhati-hati terhadap najis karena ia bisa melihatnya dan bisa menghindar darinya.
           
D. Madzhab Hanbali. Sesuai urutannya, orang yang paling berhak menjadi imam ialah,
1. Orang yang lebih bagus bacaannya dan orang yang lebih pandai atau lebih faham terhadap agama. Orang yang lebih bagus bacaannya lebih diutamakan daripada orang yang faqih (pandai dalam agama).
2. Kemudian orang yang hanya bagus bacaan al-Qur'annya saja walaupun ia tidak pandai, tetapi ia mengetahui aturan-aturan shalat dan hal-hal yang diperlukan dalam shalat.
3. Kemudian orang yang paling tahu aturan-aturan shalat.
4. Kemudian orang paling tua usianya.
5. Kemudian orang yang paling mulia nasab atau keturunannya.
6. Kemudiaan orang yang paling dahulu hijrah ke negeri Islam dalam keadaan Muslim.
7. Kemudian orang yang paling bertaqwa dan lebih wara'.
            Kalau mereka juga masih sepadan, maka mereka diundi. Akan tetapi, penguasa lebih didahulukan atas yang lainnya, sebagaimana kalau di masjid, imam masjid lebih diutamakan daripada yang lainnya. Kalau di rumah, tuan rumah lebih diutamakan daripada yang lainnya, jika ia pantas jadi imam.
            Menurut Prof. Dr. T.M. Hasbi Ash Shiddieqy, syarat-syarat seorang imam adalah sebagai berikut,
1. Sanggup menunaikan shalat.
2. Mengetahui hukum-hukum shalat.
3. Mempunyai akal yang kuat (maksudnya tidak mudah lupa).
4. Tidak cacat bacaan al-Qur'annya.[3]
            Hasbi menambahkan bahwa sebagian ulama mensyaratkan imam sebagai berikut,
1. Tidak fasiq (berbuat dosa).
2. Terkenal keadaannya.
3. Tidak tertuduh melakukan suatu kejahatan.
4. Tidak berpenyakit menular.
5. Tidak menghendaki upah.[4]
            Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi mengemukakan beberapa hal tentang syarat orang yang menjadi imam yaitu,
1. Laki-laki. (jadi tidak sah wanita menjadi imam kecuali terhadap kaum wanita atau terhadap anak-anak kecil).
2. Adil.
3. Berilmu.[5]
            Adapun orang yang lebih utama menjadi Imam menurut beliau adalah,
1. Orang yang paling fasih bacaan al-Qur'annya.
2. Kemudian orang yang paling mengerti masalah agama.
3. Kemudian orang yang paling bertaqwa.
4. Kemudian orang yang paling tua usianya.[6]

C. Orang-orang Yang Makruh Menjadi Imam.[7]
1. Orang fasiq yang pintar karena ia tidak mempunyai perhatian terhadap agama (menurut  'ulama Maliki, ulama Syafi'i, dan ulama Hanbali) kecuali shalat Jum'at dan shalat 'Id karena dianggap darurat (menurut ulama Hanbali).
2. Orang yang melakukan bid'ah tetapi ia tidak mengkafirkan orang-orang mukmin.
3. Orang buta, karena dia tidak bisa menjaga dari najis (menurut ulama Hanafi, Ulama Maliki, dan Hanbali). Apabila orang buta tersebut ialah orang terpandai  di tengah kaumnya, maka ia diutamakan (menurut ulama Hanafi).
4. Mengimami kaum yang tidak suka kepadanya. Ulama Hanafi menghukumi makruh-tahrim (makruh yang lebih dekat kepada haram).
5. Makruh memperpanjang shalat. menurut ulama Hanafi makruh tahrim, baik makmumnya rela atau tidak rela. Menurut ulama Syafi'i dan ulama Hanbali  boleh memperpanjang shalat apabila makmumnya merelakan demikian.
6. Menunggu orang masuk (mayoritas ulama selain ulama Syafi'i).
7. Orang yang banyak kesalahan baca yang tidak mengubah makna.
8. Orang yang tidak fasih membaca sebagian huruf. Akan tetapi, tidak makruh menurut ulama Hanafi.
9. Orang dusun atau pedalaman (a'rabi) mengimami orang kota. Menurut ulama Hanafi bahwa orang Turki dan orang Kurdi adalah orang awam seperti orang a'rabi karena ia mempunyai watak yang kasar. Menurut ulama Hanbali tidak apa-apa shalat di belakang orang a'rabi  jika ia orang yang pandai.
10. Makruh tempat imam lebih tinggi dari tempat  para makmum seukuran sehasta atau lebih. Jika di tempat imam tersebut ada makmum, maka tidak makruh (menurut ulama Hanafi, ulama Maliki, dan ulama Syafi'i).
11. Orang yang termasuk anak hasil perzinaan dikarenakan tidak mempunyai ayah yang mendidiknya, memelihara, dan mengajarnya. Selain itu, orang-orang pun bersikap menjauh darinya. Akan tetapi, ulama Hanbali membolehkan. Menurut ulama Hanafi ia tidak makruh menjadi imam jika ia orang yang pandai dan bertaqwa. Menurut ulama Maliki, ia tidak makruh jika ia telah diangkat menjadi imam tetap. Menurut ulama Syafi'i, ia boleh menjadi imam bagi makmum yang sama dengannya.









[1]Lihat Wahbah al Zuhaily, Fikih Shalat: Kajian Berbagai Mazhab, terj. Masdar Helmy (Bandung: Pustaka Media Utama, 2004), hlm. 555-564.
[2]Ibid., hlm. 565-569.
[3]T.M. Hasbi Ash Shiddieqy, Pedoman Shalat (Jakarta: Bulan Bintang, 1951), hlm. 329.
[4]Ibid.
[5]Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Minhajul Muslim (Beirut: Dar al-Fikr, 1995), hlm. 199.
[6]Ibid., hlm 199-200.
[7]Lihat Wahbah al Zuhaily, ibid., hlm. 569-574.

Rabu, 13 Oktober 2010

seorang ibu curhat pada saya (2)

beberapa tahun yang lalu (saya dah lupa tahun berapa) saya menumpang kereta api ekonomi dari Jakarta ke Jogjakarta. sebagaimana diketahui kalo posisi duduk kereta api ekonomi saling berhadapan. alhamdulillah, saat itu penumpang tidak seperti biasanya yang berdesak-desakan. kali ini, penumpangnya agak sepi, sehingga saya bisa leluasa memilih tempat duduk yang diinginkan, walaupun sebenarnya hal ini tidak diperbolehkan karena setiap penumpang sudah ditentukan tempat duduknya sesuai yang tertera di tiket masing-masing.

saya mencari tempat duduk yang kosong dan dengan mudah saya bisa mendapatkannya. setelah menyusun barang-barang saya di bagasi, saya beristirahat sambil memperhatikan para penumpang lain yang masih mencari tempat duduk masing-masing...
tak lama kemudian, seorang ibu paru baya memperhatikan kursi panjang yang sedang kosong yang ada di hadapan saya. ia memhampiri saya dan bertanya, "mas, pa sudah ada yang menempati kursi ini". "belum ada bu" jawabku. ia duduk dikursi itu setelah minta ijin sama saya. setelah barang-barangnya disimpan di bagasi, ia duduk sambil melihat ke arah jendela. ia trus memandang ke arah jendela sampai akhirnya kereta api berangkat meninggalkan stasiun...

sejak tadi ibu paruh baya ini hanya terdiam saja. saya pun juga segan menegurnya. sampai akhirnya, saya tertegun ketika tidak lama kemudian ibu tersebut meneteskan airmata. "ada apa gerangan, kenapa ibu ini menangis" gumamku dalam hati...
saya memberanikan diri untuk menyapanya. "bu, da pa? kenapa menangis?"
awalnya, ia hanya diam. tak lama kemudian, sang ibu tadi mengeluarkan dua lembar foto anak kecil. yang satu berpakaian seragam SD, putri. foto yang lainnya, gambar anak lelaki berseragam TK.

kedua anak itu adalah anak kandungnya sendiri tapi sayang keduanya ditinggal pergi oleh ayahnya. ia pergi tanpa meninggalkan harta atau rupiah sepersen pun untuk biaya hidup dan biaya sekolah anaknya. kini, kedua anak itu dititipkan ke neneknya di desa karena sang ibu tak sanggup menghidupi dan membiayai sekolahnya.

rasa ingin tahuku semakin besar ketika sang ibu paruh baya ini mulai membuka sedikit kisah perjalanan hidupnya. "bagaimana awalnya, bu bisa bertemu dengan suami ibu?"
sang ibu tu pun bercerita, kalo dulunya ia wanita yang banyak diminati lelaki karena lumayan cantik. salah satu fans beratnya adalah lelaki yang menjadi ayah dari kedua anaknya tersebut. ia dilamar oleh pemuda tadi dan ia menerima lamarannya, walaupun umur ibu paruh baya ini lebih senior 5 tahun dari suaminya. awalnya mereka bahagia, tapi setelah punya anak satu, sang suami sudah memperlihatkan gelagat yang tidak baik. sering keluar rumah dan jarang pulang. setelah anak kedua lahir, sang suami bukannya berubah dan memperlihatkan sifat sebagaimana layaknya ayah yang baik dan bertanggung jawab atas keluarga, ia malah minggat ntah kemana. terakhir, terdengar kabar kalau suaminya menikah lagi...

saya hanya terdiam, ntah apa yang harus kukatakan untuk mengurangi beban hati dan pikiran bu ni...

Selasa, 12 Oktober 2010

seorang ibu curhat pada saya (1)

selasa sore bada ashar (12/10/2010), saya sedang mengerjakan tugas-tugas kampus yang begitu banyak, tiba-tiba seorang ibu menelpon ke HP saya. katanya, no HP saya didapatkan dari anaknya yang pernah kuliah di UGM. saya kurang jelas siapa nama anaknya itu. saya tanya nama ibunya... ia menyebutkannya tapi kurang jelas. katanya ia berasal dari Magelang. ia curhat sama saya tentang masalah yang dihadapinya...(ntah kenapa kok curhatnya ke saya). aq pun mendengarkan keluhannya...
ibu ini punya seorang anak lelaki yang kuliah di Fak. Hukum UGM. tapi kuliahnya gak beres-beres. ia angkatan 2003 tapi belum lulus-lulus. kalo ia angkatan 2003 berarti sekarang dah kena penalty harus segera hengkang dari kampus yang terkenal dan diimpikan oleh banyak orang itu, karena peraturan di UGM, orang kuliah S1 maksimal semester 14. kalo nggak selesai mpe semeseter itu, ia akan di DO (drop out).
bukan hanya masalah kuliah yang gak beres-beres tapi anak ini juga kurang baik hubungannya dengan orang tuanya. kalo pulang ke rumah gak pernah lama...katanya udah kerja tapi penghasilannya gak jelas dikemanakan. gak nabung, malah minta ma orang tuanya. bahkan untuk pulsa ja masih minta ma ortunya. ada indikasi, anak ini dah gak bener jalan hidupnya (kata ibunya).
anak ini, dulunya, sewaktu masih semester 2 di kampus, ia baik-baik aja. tapi setelah lama di kampus, kok berubah orangnya. ia pun sekarang pacaran dengan seorang cewek yang dianggap oleh ibu ini sebagai faktor terkuat yang membuat anaknya jadi gak bener selama ini. apalagi cewek ini, pernah bertengkar dengan  adik dari anak yang bermasalah ini...
bagaimana solusinya ustadz, menghadapi masalah yang ruwet ini...???
trang ja, sulit bagi saya untuk menjawab atau merespon masalah ini. tapi aq gak enak kalo tidak memberi solusi apa-apa walaupun hanya sekedar saran...
aq sarangkan ke ibu tersebut untuk bersabar karena semua ini adalah ujian hidup yang semua orang pasti mengalaminya hanya kisahnya aja yang berbeda antara satu dengan yang lain. setelah aq sarangkan ke ibu tersebut untuk shalat malam dengan penuh khusyu' untuk memohon petunjuk kepada Allah swt tentang masalah yang dihadapi. bagaimanapun juga sebagai seorang yang beriman, kalo punya masalah pengaduan yang terbaik adalah mengadu kepada-Nya. saran selanjutnya aq berharap ke ibu itu agar mendoakan anaknya supaya kembali ke jalan yang benar, diberi hidayah oleh Allah swt. karena Dia lah Yang menggenggam ubun-ubun setiap manusia, Yang membolak-balikkan hati setiap insan...
setelah itu bagaimana...apa cukup...?? tentu tidak.
ibu itu aq sarankan agar berdialog dengan anaknya, tanya baik-baik tentang kegiatannya selama ini...tanya baik -baik tentang cita-citanya di masa datang, mau jadi apa dia. kalo baik didukung tapi kalo tidak bener diarahkan agar bener dengan cara yang bijak...sampaikan kepadanya bahwa keluarga (orang tua) sangat mengharapkan dia untuk membawa nama keluarga menjadi keluarga yang baik, keluarga yang harum namanya di masyarakat, keluarga yang disegani, keluarga yang patut dicontoh oleh keluarga laennya...
demikian pula, adakan pendekatan dengan pacarnya. cari tahu siapa dia, bagaimana karakternya, bagaimana latar belakang keluarga cewek tu, dengan siapa ia bergaul selama ini...seseorang bisa dikenali karakternya, salah satunya dilihat dari teman bergaulnya...kalo ia bergaul dengan orang yang baik, maka ia mempunyai potensi besar untuk menjadi baik, tapi kalo ia bergaul dengan  orang yang buruk, maka ia mempunyai potensi yang besar menjadi gak bener...
banyak lagi yang kami diskusikan. saya berharap saran-saran tadi bisa sedikit membantu ibu tersebut tentang langkah yang ditempuh untuk mencari solusi problem yang dihadapinya...selamat berjuang...moga tetap tabah menghadapi...